Trah Soeharto Dibunuh Muchdi
Foto : ISTIMEWA

BeritaKawasan.com – Visi beberapa kader Partai Berkarya, termasuk Badaruddin yang merupakan mantan kader Partai Golkar, berbeda dengan Tommy. Setelah pemilu serentak 2019, Badaruddin menyampaikan ada desakan dari kader Partai Berkarya agar mengevaluasi keputusan yang dibuat Tommy setahun belakangan. Salah satunya adalah mengorbankan pileg dan hanya fokus pada pilpres.

“Misalnya saja partai ini yang tadinya diharapkan masuk ke Senayan, mewakili satu kursi setiap dapilnya ternyata gagal, dan itu kan bagian evaluasi ke depan bagaimana,” kata Andi

Sebelum Tommy, perjuangan trah Soeharto dalam politik dipimpin Siti Hardiyanti Rukmana alias Tutut Soeharto dan Siti Hediati Hariyadi alias Titik Soeharto.

Pada 2002 Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) didirikan Tutut dengan R. Hartono, pembantu Soeharto di masa Orde Baru, sebagai ketua umum. Tutut kemudian diproyeksikan sebagai capres untuk Pilpres 2004 oleh PKPB. Keinginan mengulang kejayaan ayahnya gagal karena PKPB hanya mendapat 2,11 persen suara nasional dan tidak berhasil memenuhi ambang batas pencalonan presiden.

Tapi kiprah PKPB terbilang cukup baik sebagai partai baru. Mereka berhasil mengirim dua kadernya ke DPR. Pada 2009 PKPB kembali mencoba peruntungan, tapi adanya perubahan ambang batas partai untuk lolos ke parlemen sebesar 2,5 persen suara nasional menjadi hambatan. PKPB cuma memperoleh 1,4 persen suara nasional. Lima tahun berselang, PKPB tidak lolos verifikasi KPU dan nama Tutut pun tak terdengar dalam bursa pencalonan presiden.

Satu trah Soeharto yang tersisa di Golkar dan masih setia adalah Titiek Soeharto. Pada 2012 Titiek resmi menjadi kader Partai Golkar. Hanya berselang dua tahun, Titiek mencalonkan diri sebagai wakil rakyat dari Yogyakarta menggunakan kendaraan politik ayahnya semasa berjaya di era Orde Baru.

Titiek juga benar-benar memanfaatkan nama ayahnya. Saat berkampanye, Titiek memajang foto ayahnya dengan tulisan ‘Putri Ngayogyokarto, Putrane Pak Harto’. Slogan yang dibawa Titiek: ‘Isih Penak Zamanku To?”

Golkar hanya mendapat satu kursi di dapil Yogyakarta. Di antara kader Partai Golkar yang berkontestasi, Titiek berhasil mendapat suara tertinggi. Tak pelak, dia berhasil melenggang ke Senayan untuk periode 2014-2019.

Sayangnya kesuksesan Titiek tak lagi terulang lima tahun berikutnya. Tak lama setelah Tommy menjadi Ketua Umum Partai Berkarya di tahun 2018, Titiek keluar dari Partai Golkar dan turut bergabung dengan adiknya.

Satu langkah ini mengubah nasib Titiek untuk lima tahun ke depan. Bersama Partai Berkarya, Titiek tak mampu mengulang kesuksesan. Jangan dulu menghitung perolehan suara Partai Berkarya, Titiek bahkan tidak masuk dalam lima suara terbanyak di dapil Yogyakarta. Dengan begini, tak ada jaminan Titiek akan bisa sukses dalam Pileg 2024 mendatang.

Harapan trah Soeharto terpaksa mengerucut pada Tommy seorang. Namun tak lama setelah pilpres, dia juga ikut “dihabisi.” Rombongan Muchdi, Badaruddin, dan kader Partai Berkarya lainnya yang tergabung dalam Presidium Penyelamat Partai Berkarya (P3B) melaksanakan Musyawarah Nasional Luar Biasa, Sabtu (11/7/2020) secara langsung dan virtual.

Hasilnya Mayjen TNI (Purn.) Muchdi Purwoprandjono terpilih sebagai ketua umum dan Badaruddin sebagai Sekretaris Jenderal. Perlawanan terakhir Tommy adalah mengirim kader yang mengaku sebagai Angkatan Muda Partai Berkarya (AMPB). Usaha itu sia-sia belaka karena keputusan partai bulat enam jam sesudahnya.

Keputusan lain dalam musyawarah nasional itu benar-benar bertentangan dengan kepemimpinan Tommy sebelumnya. Selain keputusan Partai Berkarya mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin, mereka juga mengganti logo dan corak partai menjadi putih seperti sebelum peleburan dengan Nasrep besutan Tommy.

Bukan hanya mendepak Tommy, Muchdi dan Badaruddin menegaskan bahwa Partai Beringin Karya (Berkarya) tidak muncul begitu saja dari keringat putra kesayangan Soeharto itu, melainkan banyak orang. Bahkan Badaruddin menegaskan, “Kami (pengurus Partai Berkarya) yang meminta kepada Bapak Hutomo Mandala Putra untuk membesarkan partai ini, bukan kami ya.

Membahas Tommy yang begitu berkuasa di masa Orde Baru, Adam Schwarz, peneliti dari Foreign Policy Institute menulis dalam A Nation in Waiting: Indonesia’s Search for Stability (2018):

“Kurang ajar, agresif, dan sombong. Tommy adalah anak Soeharto yang paling menonjol di muka publik dan paling berbahaya bagi ayahnya. Berdasarkan pengakuan dari beberapa pejabat pemerintahan, di antara anak Soeharto, Tommy adalah yang paling sering menggunakan nama ayahnya untuk mendapatkan apa yang dia mau.”

Kini Tommy tak lagi punya privilese dan kekuasaan macam itu. Cengkeramannya atas Partai Berkarya juga relatif mudah ditelikung Muchdi dan Badaruddin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here