lansia emen butuh uluran tangan pemerintah
Lansia Emen stroke, dengan puteri/ foto Sri.

Berita Kawasan Tasik – Lansia Emen (84) dalam kondisi stroke Ischemic tinggal berdempe tan bersama tiga Kepala Keluarga (KK) di sebuah panggung (GUBUK) yang dihuni oleh anak, mantu dan cucu, nampaknya mengharapkan uluran dan bantuan pemerintah.

Lansia Emen yang diserang stroke Ischemic sejak 8 tahun silam, masih lancar berbicara dan mata masih melihat terang, Ia digopong oleh puterinya untuk duduk ke bangku depan panggung untuk menghirup sinar mentari setiap pagi.

Keluarga Emen yang menghuni panggung berukuran 5×6 meter, termasuk keluarga miskin, tidak mampu, rentan dan dhuafa, luput dari jangkauan sembako yang didistribusikan, baik oleh Kementerian Sosial RI, maupun Pemda Provinsi Jawa Barat.

Mereka yang berjumlah 7 jiwa sebagai penduduk tetap Picung Kaler, bermukim di Rt 27 / Rw 06 dalam wilayah kedusunan Cigolo ng, desa Singasari kecamatan Taraju nampaknya belum pernah mendapat Bantuan sosial berupa sembako dari pemda kabupaten, Tasikmalaya.

Baznas

Menurut puteri Emen Ny Rodiah, keluarganya juga belum pernah mendapat bantuan sembako yang didistribusikan oleh BAZNAS dan pemerintah kabupaten Tasik baru baru ini, katanya di kampung Picung Kaler, kedusunan Cigolong, Rabu (3/6)

Bantuan Baznas Provinsi Jawa Barat terdiri dari beras, minyak, telur 4 buah, tahu sebungkus dan uang Rp 200.000, dari Bupati, ujar Ny Edi yang menerima sembako.

Rodiah mengatakan bantuan sembako untuk satu RT diberikan bervariasi kepada warga ada yang 5 KK di satu RT, dan ada pula 13 Kepala Keluarga (KK) di satu RT.

Dan di kampung Sindang kasih RT 25/06, masih dalam kedusunan Cigolong, warga setempat dapat dalam satu RT hanya 5 KK yang menerima BLT sebesar Rp 600 ribu kata Tete Dedi yang tidak menda pat Sembako karena memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS).

Konfirmasi

Ketua RT setempat yang dihubungi untuk konfirmasi tidak ada di tempat, kata warganya kepada Pewarta, tapi mereka menjelaskan bantuan BLT dari Desa berasal dari pemerintah pusat sebesar Rp 600
000. dan bantuan dari Bupati Rp 200.000,- bersama Sembako dari Baznas.

Sedangkan bantuan dari Pemerin tah provinsi Jawa Barat, masih menunggu, kata Ibu RT, Maman berharap dari Kedusunan Tanjung Sari,Desa Singasari agar warganya puas.

Penduduk Desa Singasari kecamatan Taraju dengan luas wilayah 492,4 hektar, dengan jumlah penduduk sekitar 4939 jiwa dengan jumlah 1473 Kepala Keluarga (KK), 390 KK, diantaranya kategori miskin.

Desa Singasari berasal dari desa Taraju yang dimekarkan tahun 1974 dengan.luas wilayah 11.457, 19 hektar. Pada tahun 1987 dime – karkan lagi dari satu desa menjadi dua desa, yaitu desa Raksasari dan desa Singasari.

Berbatas

Desa Singasari seluas 493,4 sebelah utara berbatas dengan desa Kertaraja, sebelah timur berbatas dengan desa Cikalong, sebelah Barat berbatas dengan desa Raksasari dan sebelah selatan berbatas dengan desa Cukung Kauring wilayah kecama tan Taraju yang berjarak 39 km dari ibu kabupaten Tasikmalaya di Singaparna.

Sementara, warga kedusunan Tanjung Sari, Rt 23/ Rw 05 desa Cigolong , setiap bulan mendapat bantuan dari program keluarga harapan (PKH) berupa beras, ayam potong, tahu 2 bungkus, kentang dan jeruk masing masing 1 kg, kata Ibu Adnan.

Menurut Ibu RT Maman Suryaman, bagi warga yang sudah mendapat bantuan dari PKH, selama covid-19 tidak mendapat sembako, baik dari Pemda Provinsi maupun Pemda Kabupaten Tasikmalaya.

Bantuan. PKH untuk Balita,KIS dan Lansia, masing masing menerima Rp 600.000.- dan bagi pelajar yang masih di bangku SD menerima Rp 200 setiap bulannya.

Penduduk di Kedusunan Tanjung sari, desa Singasari, Rw 23 / Rw 05 yang berjumlah 73 KK, hanya 50 KK, yang terjamah bansos, ada yang menerima BLT, sembako, dan bantuan BPNT, demikian ibu RT Ny Maman Suryaman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here