Berita Kawasan Sleman – Nama KH Miftah Maulana Habiburrahman menjadi topik perbincangan setelah videonya mengisi kajian agama di sebuah klub malam viral di media sosial. Kiai yang akrab disapa Gus Miftah itu ternyata sudah 14 tahun dakwah di tempat hiburan malam.

“Di Yogya, beberapa klub malam dan kafe sudah berjalan 12-13 tahun ini. Juga di Sarkem sudah 14 tahun, pesertanya ya mereka (penghuni) di Sarkem itu,” kata Gus Miftah, sumber yang dikutip dari detik.com, Rabu (12/9/2018).

Gus Miftah menyebut dakwahnya itu sudah menjadi rutinitas belasan tahun. Sehingga dia cukup terkejut jika baru menuai kontroversi akhir-akhir ini. Gus Miftah pun menegaskan dia tidak berniat melacurkan agama atas jalan dakwah yang dijalaninya itu.

“Saya dianggap melacurkan agama, kepentingan ekonomi, tidak. Saya berangkat biaya sendiri, konsumsi sendiri, tidak ada urusan masalah uang, sama sekali tidak ada, bener-bener murni dakwah. Kalau tidak percaya silakan dikonfirmasi ke mereka,” tandas kiai berusia 37 tahun itu.

Fakta lainnya, Gus Miftah juga kerap mengisi kajian agama di institusi pemerintahan. “Pernah diundang ke Balai Kota DKI Jakarta ngaji bareng Anies Baswedan, juga di kantor bea cukai, kantor pajak, Gubernur AAU Adisutjipto, kantor polisi, TNI, bupati, wali kota,” kata Gus Miftah, Kamis (13/9/2018).

Gus Miftah pun menepis tudingan dia hanya mencari sensasi dengan dakwah di klub malam dan tempat hiburan malam.

Fakta lainnya, kiai berusia 37 tahun yang juga pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji, Kalasan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) itu juga kerap mengisi kajian agama di institusi pemerintahan.

“Pernah diundang ke Balai Kota DKI Jakarta ngaji bareng Anies Baswedan, juga di kantor bea cukai, kantor pajak, Gubernur AAU Adisutjipto, kantor polisi, TNI, bupati, wali kota,” kata Gus Miftah, Kamis (13/9/2018).

Gus Miftah pun menepis tudingan dia hanya mencari sensasi dengan dakwah di klub malam dan tempat hiburan malam.

“Ini kemarin (kajian di Boshe Bali) dianggap cari sensasi, sudah 8 tahun (dakwah) di Boshe Bali, di Boshe Yogya juga rutin dua pekan sekali, di klub malam lain di Yogya sudah 12-13 tahun ini, di Sarkem lebih dulu 14 tahun berjalan. Sudah dari dulu juga saya ngisi kajian di kantor pemerintahan, TNI/Polri. Terus zaman saiki mosok mosting (di medsos) ora oleh rek?” ujar kiai asli Ponorogo, Jawa Timur itu.

“Jadi tidak ada urusan masalah uang saya dakwah di klub malam, dipermasalahkan amplope kandel, tidak. Dianggap bisa lihat perempuan seksi, tidak. Saya tidak senafsu itu, saya tidak bermotif ekonomi, ini betul-betul murni berdakwah. Dan alhamdulillah sampai detik ini setetespun saya belum pernah minum alkohol, rokokpun tidak,” sambungnya.

Menurut Gus Miftah, manusia tidak boleh menghakimi manusia lainnya. Di mata Allah, yang dinilai adalah kadar ketakwaan seseorang.

“Selalu saya katakan ke peserta kajian, orang baik itu punya masa lalu, dan orang jelek punya masa depan, jangan kita jadi hakim. Saya nggak papa dibilang cari sensasi, tapi ini jalanku, ini metodeku, silakan salahkan saya, tapi jangan halangi mereka untuk kembali bermesraan dengan Tuhan,” sebut Gus Miftah yang mengaku jalan dakwahnya terinspirasi oleh sosok (alm) Gus Miek.

Sumber : Detik.com

LEAVE A REPLY