Anak Muda Bosan dengan Tokoh Politik Lama, Kisruh Partai Berkarya
Foto : ISTIMEWA

Berita Kawasan JAKARTA – Terjadi kisruh di internal Partai Berkarya antara kubu Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto dengan kubu Muchdi Purwoprandjono. Kisruh dua kubu ini dinilai menjadi penanda bahwa partai-partai politik baru yang didasarkan pada ketokohan akan sulit berkembang dan tetap eksis di alam demokrasi Indonesia masa kini.

Menanggapi hal itu, Direktur Populi Center sekaligus pengamat politik, Usep S Akhyar mengatakan, partai yang didasarkan pada ketokohan terpusat pada seseorang lambat laun akan ditinggalkan pemilihnya. Terlebih selama ini Partai Berkarya selalu identik dengan Tommy, Soeharto, dan Orde Baru.

“Orde Baru itu sudah masa lalu. Orang dulu banyak tahu siapa Suharto. Ada memang penggemarnya saat ini, tapi sudah sedikit. Kalangan milenial bahkan sudah tidak tahu dengan nama besar itu,” kata Usep kepada wartawan, Jumat (24/7).

Lebih lanjut, Usep mengatakan pemilih Indonesia yang kini didominasi usia muda tidak lagi memandang ketokohan sebagai pertimbangan utama dalam memilih. Narasi-narasi yang digaungkan tokoh Partai Berkarya, kata Usep, tidak menarik simpati anak muda.

“Anak muda sudah bosan dengan tokoh politik lama yang jargon politiknya seperti omong kosong belaka, sementara dari sisi programatik partai itu tidak ada.  Orang akan memilih berdasarkan reputasi. Orang yang tak berprestasi mau pimpin partai baru, kemudian berkuasa, ya tidak bisa,” ucap Usep.

Lebih lanjut, Usep menilai, Partai Berkarya yang dideklarasikan pada 2016 lalu telah kehilangan momentum untuk berkembang. Sebabnya, partai-partai lama yang ada di Indonesia kini semakin eksis dan matang. Selain itu, persepsi masyarakat yang menyimpulkan bahwa partai politik itu seragam.

“Terlebih secara ideologi tidak ada pembeda antara partai baru dengan partai lama. Partai Berkarya tidak memiliki diferensiasi yang jelas dengan partai lainnya,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here